0 item in the bag

No products in the cart.

Open Reseller/ Dropshipper dari seluruh Indonesia ( 0823 6638 0788 )

Mitos Atau Fakta Madu Untuk Bayi Berbahaya

Kondisi ASI yang tidak lancar pasca melahirkan, cenderung mendorong Ibu mencari sumber asupan seperti susu formula atau madu untuk bayi. Tentu dengan harapan bayi mendapat asupan yang cukup sehingga terhindar dari kekurangan gizi.

Memberi bayi susu formula tentu menjadi hal yang lumrah dikalangan masyarakat ketika produksi ASI Ibu tidak lancar. Hal yang sama juga saya lakukan ketika ASI istri tidak keluar sebagaimana mestinya pasca melahirkan anak pertama. Bahkan hanya satu bulan ASI keluar, setelah itu tidak sama sekali.

Berbagai cara sudah dilakukan agar ASI kembali lancar. Tapi semua nihil…

Pada akhirnya kami sepakat menjadikan susu formula sebagai asupan utama bayi. Selama pemberian susu formula, kami selingi dengan memberikan madu. Berapa banyak? Cukup mengoleskannya pada dot botol susu.

Berbahayakah Madu Untuk Bayi?

Madu sudah dikenal sebagai sumber nutrisi yang kaya manfaat dan kebaikannya bagi tubuh. Bahkan sejak lama dipercaya sebagai obat alami yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Bagi Ibu yang sedang menyusui, terdapat manfaat ganda. Tidak hanya bermanfaat bagi ibu tetapi juga dinikmati oleh bayi melalui ASI yang diminumnya.

Kandungan utama madu adalah gula (glukosa dan fructosa) yang didapat dari nectar bunga. Madu juga mengandung pollen yang merupakan sejenis butiran diperoleh dari putik sari bunga. Selain itu, madu mengandung senyawa lain, seperti vitamin C, pinobanksin, chrysin, katalase dan pinocembrin yang dipercaya menjadi antioksidan alami.

Dengan khasiat madu yang luar biasa ini, wajar jika para ibu ingin memberikan kepada bayinya sedini mungkin untuk membentuk kekebalan tubuh. Namun, apakah memberikan madu kepada bayi tidak memberikan efek negatif?

Jika kita searching di internet terkait efek pemberian madu kepada bayi, maka akan tersaji banyak sekali artikel yang sepakat mengatakan ‘bahaya’. Pada umumnya menyatakan ‘madu berbahaya untuk bayi usia < 2 tahun, madu tidak aman untuk bayi, madu tidak boleh untuk anak usia <1 tahun, dll.’ Bahaya karena diduga mengandung spora bakteria, yaitu Clostridium botulinum. Keberadaan bakteri ini penyebab kekhawatiran mereka yang kontra terhadap pemberian madu untuk bayi.

Bakteri ini berasal dari putik bunga yang melekat pada kaki lebah yang kemudian menempel di sarang lebah dan terbawa saat madu dipanen. Clostridium botulinum menyebabkan penyakit botulisme pada bayi, yaitu sejenis penyakit keracunan makanan yang mempengaruhi sistem sarat bayi dan bisa menyebabkan kematian. Ketika terserang botulisme, bayi akan mengalami kelumpuhan otot, tidak bisa pup, tidak mampu menyusu, tubuh lunglai.

Jadi benar dong kalau madu untuk bayi itu berbahaya….

Sebelum sampai pada kesimpulan ini, yuk kita simak hasil penelitian ilmiah yang pernah dilakukan terkait potensi bahaya madu untuk bayi.

“Tim dokter dari rumah sakit Al Kafji National Hospital di Arab Saudi pernah melakukan penelitian tentang hubungan madu dan botulism. Mereka meneliti lebih dari 220 contoh madu dari berbagai negara dan melakukan interview dengan 1500 keluarga yang memiliki bayi dan memberinya madu sejak lahir.”

Dari penelitian tersebut membuktikan TIDAK ADA madu yang tercemar oleh Clostridium botulinum dan tidak satupun bayi yang menderita botulisme. Peluang adanya Clostridium botulinum pada madu sama dengan peluang keberadaannya pada bahan makanan lain yang juga berasal dari alam, seperti susu. hasil penelitian ini menyimpulkan jika madu aman dikonsumsi segala usia bahkan bayi dibawah usia 1 tahun.

 “Penelitian Madu untuk Bayi juga dilakukan oleh Dr.M.H.Haycak, Dr.M.C.Tanquary dari universitas Minnesota, dan Dr. Schultz, Dr.Knott dari bagian penyakit anak-anak Universitas Chicago. Dua kelompok anak dibiasakan mengkonsumsi madu untuk menentukan efek dari berbagai jenis bayi: 4 orang dari 7 -13 tahun dan 9 bayi yang usianya berkisar antara 2-6 bulan.”

Hasilnya adalah bila diberikan madu selama 15 menit, madu terserap lebih cepat dibanding dengan berbagai jenis gula yang telah di uji coba. Madu tidak berbahaya untuk dikonsumsi bayi.

Dari penelitian diatas, seharusnya dapat memberi gambaran tentang bahaya atau tidak madu dikonsumsi oleh bayi. Oh ya, kasus bayi terkena penyakit botulisme sebenarnya sangat jarang loh terjadi.

Perlu diingat, madu mengandung sangat sedikit air yang menjadikannya sulit dijadikan tempat berkembangnya mikroorganisme. Kalaupun bakteri Clostridium botulinum ada, tentu mereka akan kesulitan untuk tumbuh didalam madu.

Untuk mengetahui seberapa besar kandungan air didalam madu, bisa dibaca lebih lengkap pada artikel sebelumnya tentang Mengenal Madu Kadaluarsa, Benarkah Ada Batas Konsumsinya?

 Terlepas dari kontroversi tentang pemberian madu kepada bayi, manfaat madu untuk bayi patut untuk menjadi perhatian. Walaupun sebenarnya kebutuhan dasar bayi telah tercukupi dengan ASI, menjadikan madu sebagai nutrisi tambahan memiliki khasiat sebagai berikut:

  1. Madu membantu perkuat daya tahan tubuh

Seperti kita ketahui, didalam madu terkandung vitamin C yang menjadi antiseptik bagi bayi. Jika bayi sering terkena flu, bisa jadi imunitas tubuhnya lemah hingga membutuhkan tambahan vitamin C. Madu termasuk obat flu bayi yang alami.

  1. Memperlancar pencernaan bayi jika mengkonsumsi madu secukupnya

Selain bisa membantu menyembuhkan flu, kandungan vitamin C pada madu juga memiliki efek laksatif (pencahar ringan) yang bisa melancarkan sistem percernaan bayi. Tapi perlu diingat agar tidak berlebihan dalam pemberian madu untuk menghindari diare pada bayi.

  1. Membantu perkembangan otak

Asupan nutrisi untuk membantu perkembangan otak, tidak hanya dilakukan saat ibu mengandung. Ibu juga bisa ‘melanjutkan’ asupan nutrisi untuk otak dengan memberinya madu. Zat gula yang dikandung madu membantu tumbuh kembang otak bayi. Gula memberikan asupan energi yang cukup sehingga otak menjalankan fungsinya secara optimal.

Dengan penjelasan diatas terkait mitos atau fakta madu untuk bayi berbahaya, Anda tentu bisa menentukan pilihan apakah memilih madu sebagai nutrisi tambahan atau tidak sama sekali. Terlepas dari bahaya yang mungkin ada, terdapat cara untuk meminimalisir terjadinya resiko yang tidak diinginkan.

Toh sampai detik ini saya sudah membuktikan tidak ada efek negatif terhadap anak yang telah mengkonsumsi madu sejak usia 2 bulan hingga 3 tahun. Terhenti setahun karena anak mendadak tidak doyan madu. Dan kembali mengkonsumsi saat berusia 5 tahun hingga sekarang.

Keputusan tentu ada ditangan Anda. Bila perlu, berkonsultasilah kepada dokter anak jika ragu ingin memberikan madu untuk bayi.

Share ya jika bermanfaat…